Tundukkan Hamburg, Bayern Nyaman di Puncak Klasemen


AFPGelandang Bayern Muenchen, Bastian Schweinsteiger (ketiga dari kanan), mendapatkan ucapan selamat dari rekan-rekannya setelah mencetak gol ke gawang Hamburg, pada lanjutan Bundesliga, di Imtech Arena, Sabtu (3/11/2012).

HAMBURG, KOMPAS.com - Tiga pemain berbeda mencetak gol yang menentukan kemenangan Bayern Muenchen 3-0 atas Hamburg SV, pada lanjutan Bundesliga, di  Imtech Arena, Sabtu (3/11/2012).

Kemenangan tuan rumah dibuka oleh Bastian Schweinsteiger pada menit ke-40. Dengan kepalanya, ia membelokkan umpan silang Toni Kroos masuk sudut kanan bawah gawang Rene Adler.

Pada menit ke-48, giliran Thomas Mueller yang masuk daftar pencetak gol. Dari sudut sempit di sektor kanan pertahanan tuan rumah, Mueller melepaskan tembakan kaki kanan yang membuat bola kiriman Franck Ribery melesat masuk sudut kiri bawah gawang.

Lima menit setelahnya, Bayern mendapatkan gol ketiga dari Toni Kroos. Dengan kaki kiri, ia mengirim bola hasil tendangan Franck Ribery dari dalam kotak penalti ke tengah atas gawang.

Menurut catatan Bundesliga, selama pertandingan, Bayern melepaskan 14 tembakan akurat dan Hamburg menciptakan tujuh peluang emas.

Dengan kemenangan itu, Bayern menguasai klasemen sementara dengan 27 poin, atau unggul tujuh angka dari pesaing terdekat, Schalke 04.

Susunan pemain
Hamburg:
15-Rene Adler; 2-Dennis Diekmeier, 3-Michael Mancienne, 4-Heiko Westermann, 7-Marcell Jansen; 8-Tomas Rincon (10-Artjoms Rudnevs 46), 14-Milan Badelj, 18-Tolgay-Ali Arslan, 23-Rafael Van der Vaart; 21-Maximilian Beister (6-Dennis Aogo 59), 40-Heung-Min Son

Bayern: 1-Manuel Neuer; 4-Dante, 17-Jerome Boateng, 21-Philipp Lahm, 27-David Alaba; 7-Franck Ribery (13-Rafinha 83), 25-Thomas Muller, 30-Luis Gustavo Dias (8-Javi Martinez 56), 31-Bastian Schweinsteiger; 9-Mario Mandzukic, 39-Toni Kroos (44-Anatoliy Tymoschuk 75)

Wasit:  Knut Kircher

Ini Rahasia Rekor 100 Persen Penalti Balotelli


AFP/ADRIAN DENNISPenyerang Manchester City, Mario Balotelli.

MANCHESTER, KOMPAS.com - Penyerang Manchester City, Mario Balotelli, mengungkapkan rahasia di balik rekor 100 persennya ketika melakukan penalti bersama "The Citizen". Bomber kontroversial itu menilai mengambil tendangan 12 pas sama seperti permainan psikologi dengan kiper lawan.

"Ini (melakukan tendangan penalti) seperti permainan pikiran, antara diriku dengan kiper lawan," ungkap Balotelli.

"Aku tahu bagaimana mengontrol pikiranku sendiri.  Ketika kiper bergerak sebelumku, itu berarti dalam permainan pikiran itu, dia telah kalah," tambahnya.

Meski jarang dimainkan sebagai starter, Balotelli memang beberapa kali didaulat menjadi algojo City saat mendapatkan hadiah tendangan penalti dari wasit. Menurut Balotelli, kesuksesannya itu juga tidak lepas dari peran Pelatih Roberto Mancini.

"Hubunganku dengan Mancini sangat penting. Dia mengenal aku sejak aku muda dan dia seperti ayah bagiku," kata Balotelli.

"Aku terbiasa untuk bermain dengan pemain muda di Inter, jadi aku sangat mengenal dia cukup baik dan dapat menceritakan apa pun kepadanya," tegasnya kemudian.

"Manusia Rp 667 Triliun" Incar Klub Kota Madrid


STR / AFPOrang terkaya nomor satu di dunia versi Forbes, Carlos Slim (kiri).

MADRID, KOMPAS.com — Kabar mengejutkan datang dari Kota Madrid. Klub asal kota tersebut, Getafe, dirumorkan sedang menjadi incaran Carlos Slim. Berita tersebut dilaporkan Libertad Digital.

Slim saat ini tercatat sebagai orang kaya nomor satu di dunia versi Forbes. Kekayaan raja telekomunikasi asal Meksiko itu ditaksir mencapai 54 miliar euro atau sekitar Rp 667 triliun!

Angel Torres, Presiden Getafe, memang sedang mencari investor yang ingin membeli Getafe. Slim dikatakan sangat berminat menanamkan modal di Getafe dan menjadikan klub tersebut sebagai kekuatan terbesar di Eropa.

Meski memiliki kekayaan berlimpah, Slim sepertinya ingin membeli kepemilikan Getafe melalui perusahaan miliknya, America Movil. Perusahaan ini merupakan pemegang hak siar Liga BBVA di Meksiko.

Akan tetapi, Torres justru belum mengetahui kabar ketertarikan Slim dengan Getafe. Lebih mencengangkan, Torres ternyata tak mengenal sosok Slim.

"Saya tidak tahu siapa pria ini dan tidak ingin memberikan publisitas untuk siapa pun," kata Torres.

 

Impian Neymar, Main Bareng Messi


GRAHAM STUART / AFPNeymar (striker Brasil dan Santos): bermimpi suatu saat bermain bersama Lionel Messi.

SAO PAULO, KOMPAS.com — Striker Brasil dan ikon Santos, Neymar, mengakui impiannya adalah bermain bersama bomber Barcelona dari Argentina, Lionel Messi.

Berkali-kali Neymar diberitakan segera mendarat di Camp Nou dan berkali-kali pula Santos membantahnya. "Peixe"—sebutan Santos—terakhir menampik rumor Barca telah memberikan uang muka untuk pembelian Neymar tahun depan.

Kini, lelaki berusia 20 tahun itu bak kembali menyiramkan bensin ke dalam api. Spekulasi bergabungnya Neymar ke tim arahan Tito Vilanova kembali merebak.

"Bermain bareng Messi adalah sebuah impian. Meski hanya berlatih bersama, itu sudah membuatku senang," tandas Neymar yang dilansir Marca, Kamis (1/11/2012).

Bahkan, lelaki bernama lengkap Neymar da Silva Santos Junior itu berani menyatakan, hanya Messi yang pantas menerima penghargaan Pemain Terbaik Dunia 2012, bukan Cristiano Ronaldo, tidak pula Andres Iniesta.

"Buatku, tiga pemain itu adalah yang terbaik di dunia saat ini," ujar Neymar.

Bahkan, ia sampai menyebut Messi sebagai pesepak bola yang sempurna.

"Bisakah kamu bayangkan orang yang kamu idolakan memberi pujian kepadamu? Itu akan membuatku sangat bahagia dan aku hanya dapat berterima kasih atas sanjungannya," tutur Neymar.

 

Kala "Tiki-taka" Jadi Teka-teki

KOMPAS.com — Kepemimpinan Brendan Rodgers di Liverpool mulai goyah. Tersingkirnya "The Reds" dari ajang Piala Liga Inggris setelah takluk dari sang tamu, Swansea City, memperparah performa Liverpool yang sudah jeblok musim ini. Taktik Rodgers pun mulai dipertanyakan.

Pertama kali ditunjuk membesut Liverpool pada musim panas lalu, Rodgers seakan membawa angin segar bagi Liverpool. Klub itu ingin bangkit setelah era Kenny Dalglish hanya mampu menorehkan trofi Piala Liga Inggris. Terlebih lagi, Rodgers membawa taktik dan skema bermain yang sedang digandrungi saat ini, tiki-taka!

Rodgers ingin meneruskan gaya bermain yang sudah digelarnya saat melatih Swansea ke klub yang lebih besar dan memiliki pemain-pemain berkualitas. Banyak yang optimistis gaya umpan satu-dua Rodgers akan makin mulus kalau diterapkan di Liverpool. Ditambah lagi, Rodgers membawa eks andalannya di Swansea, Joe Allen, sebagai "penyambung lidah" di lapangan.

"Tentu pola bermain umpan satu-dua yang akan saya pakai di Liverpool meski saya takkan memaksa para pemain. Saya akan lihat kemampuan mereka. Sejauh ini, para pemain menikmati cara bermain itu dan kami masih butuh waktu lagi," sebut Rodgers di awal eranya bersama "Merseyside Merah".

Pernyataan dari sang manajer diamini bek kiri, Jose Enrique.

"Gaya bermain Rodgers membuatku nyaman. Formasi dan taktiknya sesuai dengan keinginanku," ujar Enrique yang berasal dari tanah leluhur tiki-taka, Spanyol.

Nyatanya, tiga bulan berlalu, Liverpool justru belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Di kompetisi Premier League, Liverpool hanya berada di urutan ke-12. Ironis, mantan klub Rodgers, Swansea, saat ini justru berada tepat di atasnya dengan perbedaan satu poin.

Ada yang Salah dengan Rodgers?

Karier Rodgers sebenarnya mencuat musim lalu saat menangani Swansea. Klub berjuluk "The Swans" itu membuat kejutan dengan berani memainkan taktik yang jarang digunakan di Inggris, tiki-taka. Ya, begitulah, banyak orang membicarakan Swansea musim lalu. Bahkan, ada yang membandingkan cara bermain "Sang Angsa" dengan klub yang sudah memainkan tiki-taka sejak lama, Barcelona. Berlebihankah?

Sepintas, gaya bermain Swansea dan Barcelona hampir serupa. Begitu pula dengan jumlah penguasaan bola. Untuk klub yang baru promosi, Swansea masuk 5 besar klub dengan penguasaan bola tertinggi di Premier League musim lalu. Namun, jika dirinci, gaya tiki-taka Swansea dan Barcelona jauh berbeda.

Barcelona mampu mendominasi permainan dari mulai garis pertahanan lawan. Sementara Swansea, lebih dari 60 persen penguasaan bolanya dilakukan di daerah sendiri. Bahkan, Swansea merupakan klub terendah yang mendominasi bola di pertahanan musuh, dibanding 19 kontestan Premier League lain musim lalu.

Namun, semua itu dianggap hal yang wajar untuk klub sekaliber Swansea.

Alhasil, Rodgers cukup yakin punya cerita berbeda saat melatih Liverpool dengan segenap talenta berbakatnya.

Benar saja, seperti data yang diperoleh dari Who Scored, Liverpool saat ini mampu menguasai bola lebih banyak di daerah musuh ketimbang garis pertahanan sendiri. Namun, dari segi penguasaan bola, “The Reds” justru masih kalah bagus dari tiga raksasa lainnya, Arsenal, Manchester United, dan Manchester City.

Faktor Lapangan


Tiki-taka merupakan filosofi permainan sepak bola yang terlihat cukup sederhana, yaitu mengumpan, mengontrol, dan bergerak. Namun, dalam praktiknya, hal-hal mendasar itulah yang sangat sulit dikuasai. Barcelona saja butuh bertahun-tahun untuk membangun para pemain dengan dasar sepak bola benar seperti itu.

Selain faktor kualitas pemain, ada lagi kunci keberhasilan dalam mengembangkan taktik tiki-taka, yaitu ukuran lapangan sepak bola. Media Inggris, Backpage Football, membeberkan alasan mengapa Liverpool kerap kesulitan memainkan tiki-taka di Stadion Anfield.

Ukuran Stadion Anfield yang hanya 101 x 68 meter, ternyata tak sesuai dengan gaya bermain tiki-taka. Bandingkan dengan ukuran markas Swansea, Stadion Liberty, dan kandang Barcelona, Camp Nou, yang memiliki ukuran mencapai 105 x 68 meter.

Sepintas perbedaan panjang empat meter itu serasa menggelikan, tetapi detail itu ternyata sangat krusial.

Namun, pada filosofi tiki-taka, memang perlu banyak ruang untuk berkreasi. Pasalnya, lagi-lagi, umpan satu-dua antarpemain lebih banyak digunakan sepanjang pertandingan. Untuk penyelesaian akhirnya, butuh ruang bagi pemain menyelinap masuk ke daerah musuh. Itulah kunci mengapa ukuran lapangan bisa berhubungan erat dengan gaya bermain tiki-taka.

Liverpool kesulitan saat menjamu Stoke City pada 7 Oktober silam. Gaya bermain Stoke yang mengumpulkan banyak pemain di daerah sendiri membuat ruang Luis Suarez dan kawan-kawan sangat sedikit. Hasil tanpa gol menjelaskan sendiri kesulitan para pemain Liverpool berkreasi menembus tembok kokoh "The Potters".

Masalah Belakang dan Depan

Masih banyak pekerjaan yang harus dikembangkan Rodgers kalau ingin memainkan filosofi tiki-taka di Liverpool. Tugas para pemain belakang harus lebih spesifik.

Legenda hidup Liverpool, Bruce Grobbelaar, pernah mengkritik pemain-pemain belakang Liverpool kala takluk dari Udinese di Liga Europa. Menurut kiper dari Afrika Selatan itu, kumpulan bek "The Reds" seperti lupa akan tugas utamanya sebagai pemain bertahan, yakni mengamankan bola dari ancaman lawan.

"Apakah Rodgers mengintruksikan pemain belakang untuk tak menekel di kotak penalti? Bagaimana bisa Antonio Di Natale men-juggling bola di dalam kotak penalti sebelum mengumpan kepada Giovanni Pasquale yang akhirnya mencetak gol. Para bek seharusnya merebut dan membuang bola tersebut," kritik Grobbelaar.

Taktik baru yang dikembangkan Rodgers tak bisa disalahkan sebagai biang keladi buruknya performa Liverpool saat ini. Beberapa hasil negatif sebenarnya bisa terhindar jika Liverpool memiliki barisan depan yang tajam.

Statistik musim ini membuktikan, Liverpool berada di urutan ke-4 dalam hal melakukan rata-rata usaha tendangan ke gawang lawan dengan rasio 18,1 usaha tembakan per laga. Lebih tinggi ketimbang milik Arsenal, MU, ataupun Chelsea. Dari jumlah tersebut, "The Reds" hanya mampu mencetak gol 1,3 per pertandingan.

Liverpool hanya membukukan 32 persen tendangan tepat ke arah gawang lawan. Usut punya usut, akurasi tersebut adalah yang terburuk di antara seluruh kontestan Premier League musim ini.

Raksasa pinggir Sungai Mersey itu memang terlalu bergantung pada ketajaman Luis Suarez. Striker-striker seperti Raheem Sterling, Suso, Adam Morgan, maupun Samed Yesil, masih terlalu muda. Kala beban Suarez sedikit ringan dengan kedatangan Fabio Borini, musibah terjadi. Borini harus absen lama karena cedera.

Jika sudah begini, Rodgers harus cepat-cepat mengoptimalkan tiki-taka di Liverpool. Atau jika mau, Rodgers bisa berkreasi menggunakan strategi lain yang lebih efektif dan efisien. Cara itu merupakan solusi instan paling manjur ketimbang menunggu kebangkitan Liverpool dengan tiki-taka yang butuh banyak waktu. Terlambat memanfaatkan peluang, era Rodgers bisa-bisa hanya seumur jagung di Anfield kalau masih berkeras menggelar taktik teka-tekinya.