Higuain "Maafkan" Ronaldo


AFP/RAFA RIVASPenyerang Real Madrid, Cristiano Ronaldo (tenga) mendapat sambutan rekan-rekannya setelah membobol gawang Osasuna dalam lanjutan Liga BBVA, Sabtu atau Minggu (1/4/2102) dini hari WIB. Madrid akhirnya menang 5-1.

MADRID, KOMPAS.com - Penyerang Real Madrid, Gonzalo Higuain, mengaku tidak mempersalahakan insiden tabrakan dengan Cristiano Ronaldo sehingga gagal mencetak gol ke gawang Osasuna, Sabtu atau Minggu (1/4/2012) dini hari WIB.

"Aku nyaris mencetak tiga gol. Aku menggiring bola dan berusaha melepaskan tendangan. Namun, aku tidak menyadari Ronaldo berlari di belakangku," jelas Higuain.

Dalam laga yang berakhir dengan kemenangan Madrid 5-1 tersebut, Higuain berhasil mencetak dua gol. Penyerang asal Argentina itu bisa saja menciptakan tiga gol karena dia memiliki peluang emas pada menit ke-52.

Higuain berhasil mengecoh kiper Osasuna. Saat berusaha menceploskan bola, Higuain terjatuh setelah berbenturan dengan Ronaldo. Alhasil, usaha Higuain terbuang percuma. Namun, Ronaldo seperti menebus kesalahannya dengan memberikan assist kepada Higuain pada menit ke-77.

Higuain juga tak ingin mempermasalahkan insiden ini. Sebab, menurutnya, hal tersebut biasa dalam sepak bola. "Insiden tersebut hanya salah satu dari beberapa hal yang terkadang terjadi di sepak bola. Kami tidak berpikir soal hal tersebut," tutur Higuain.

Berkat kemenangan ini, Madrid semakin kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 78 poin, unggul enam angka dari Barcelona. (RM)

 

Kapten Aston Villa Didiagnosis Leukimia Akut


DaylifeKapten Aston Villa,Stiliyan Petrov.

LONDON, KOMPAS.com — Nasib malang menimpa kapten Aston Villa, Stiliyan Petrov. Pemain asal Bulgaria itu didiagnosis oleh tim dokter Villa menderita penyakit leukimia akut.

Penyakit itu diketahui setelah Petrov mengalami demam tinggi seusai membela klubnya saat bertanding melawan Arsenal dalam lanjutan Premier League akhir pekan lalu. Setelah itu, dia kemudian dilarikan ke rumah sakit, dan dokter langsung mengonfirmasi mengenai penyakitnya.

"Dewan Villa menerima berita buruk hari ini bahwa kapten kami, Stiliyan Petrov, didiagnosis menderita leukimia akut. Kami ingin mengetahui lebih jauh mengenai kondisi dalam waktu dekat dan kami terus mendukung dia dan keluarganya," demikian pernyataan Villa dalam situs resminya.

"Mulai saat ini kami meminta agar privasi Stiliyan bisa dikedepankan demi kelancaran pemeriksaan. Kami pasti akan memberikan informasi jika kami mendapatkannya. Stiliyan dikasihi banyak orang dan dia akan mendapatkan hal itu dari seluruh pemain, pengurus, dan pendukung Villa. Kami berharap ini semua membawa pada kesimpulan yang baik," katanya lagi.

Pelatih Villa, Alex McLeish, mengaku terkejut mendengar kabar tersebut. Akan tetapi, ia tetap mengucapkan simpatinya dan akan terus memberikan dukungan bagi anak asuhnya.

"Tim dokter mengatakan kepada saya kemarin bahwa mereka masih menunggu hasil pemeriksaan. Semua pemain Villa akan mendukungnya dan akan berusaha untuk memenangkan pertandingan akhir pekan ini untuk sang kapten," kata McLeish.

Atletico-Hannover Sementara Imbang 1-1


champions-league-guides.blogspotLiga Europa

MADRID, KOMPAS.com — Atletico Madrid sementara bermain imbang 1-1 lawan Hannover 96 hingga akhir babak pertama leg pertama babak perempat final Liga Europa, Kamis atau Jumat (29/3/2012) dini hari WIB. Sempat tertinggal oleh gol Falcao, Hannover kemudian membalas melalui gol Mame Biram Diouf.

Bermain sebagai tuan rumah, Atletico mengambil inisiatif menyerang lebih dulu. Pertandingan baru berjalan sembilan menit, penyerang Falcao sudah membuka keunggulan Atletico menjadi 1-0. Falcao mencetak gol melalui sundulannya menerima umpan tendangan bebas Gabi.

Ketinggalan satu gol, Hannover tak tinggal diam. Pada pertengahan babak pertama, Hannover lebih menguasai jalannya pertandingan. Pada menit ke-18, Christian Pander hampir menyamakan kedudukan jika bola tendangannya tak dapat dihalau dengan baik kiper Thibaut Courtois.

Tim tamu akhirnya mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-38. Berawal dari aksi Lars Stindl di sisi kanan, ia kemudian melepaskan umpan terobosan kepada Diouf. Pemain asal Senegal itu lantas tak membuang kesempatan untuk mencetak gol.

Valencia mencoba membalas melalui peluang yang didapat Juanfran satu menit menjelang akhir pertandingan. Namun, bola tendangannya masih bisa dihalau kiper Ron-Robert Zieler. Hingga turun minum, skor 1-1 tidak berubah.

Susunan pemain
Atletico Madrid: 13-Thibaut Courtois, 6-Filipe Kasmirski, 2-Diego Godín, 23-Miranda, 14-Gabi, 20-Francisco Juanfran, 4-Mario Suárez, 11-Arda Turan, 19-Koke, 7-Adrián, 9-Falcao.

Hannover 96: 1-Ron-Robert Zieler, 4-Emanuel Pogatetz, 6-Steve Cherundolo, 24-Christian Pander, 5-Mario Eggimann, 33-Manuel Schmiedebach, 7-Sergio Pinto, 34-Konstantin Rausch, 28-Lars Stindl, 13-Jan Schlaudraff, 39-Mame Biram Diouf.

Wasit: Stephane Lannoy

 

Persaudaraan Sepak Bola


DaylifePendukung cilik Swansea saat memberikan dukungan terhadap pemain Bolton, Fabrice Muamba, yangkolaps terkena serangan jantung saat membela klubnya melawan Tottenham Hotspur di Piala FA, Sabtu (17/3/2012).

Oleh: Anton Sanjoyo

Tidak ada berita yang lebih menggembirakan pada awal pekan ini ketimbang kabar dari Pelatih Bolton Wanderers Owen Coyle yang mengabarkan bahwa kondisi kesehatan pemain Fabrice Muamba berangsur membaik. Muamba bahkan menyaksikan laga antara Bolton dan Blackburn melalui televisi di rumah sakit meski kemudian tertidur sebelum pertandingan usai.

Sebelumnya, selama lebih dari sepekan, keluarga Muamba dan Bolton menanti dengan waswas. Setelah terkena serangan jantung pada laga melawan Tottenham Hotspur, 17 Maret lalu, di White Hart Lane, Muamba berjuang antara hidup dan mati. Namun, dukungan yang begitu hebat dari keluarga dan klub Bolton membuat masa-masa kritis bisa dilampaui Muamba dengan baik meski tim dokter mengatakan, untuk pulih 100 persen dibutuhkan waktu lama.

Jatuh tertelungkup di White Hart Lane akibat serangan jantung, Muamba sebenarnya sudah meninggal secara medis. Dokter mengatakan, jantung pemain kelahiran Zaire berusia 23 tahun itu sempat berhenti selama 78 menit. Namun, kurang dari 24 jam setelah mendapat perawatan di rumah sakit, Muamba mampu merespons beberapa pertanyaan. Kondisinya terus membaik seiring dukungan yang terus mengalir dari klubnya dan dari seluruh dunia.

Kesedihan yang dialami rekan Muamba hampir tak bisa digambarkan. Kevin Davies, pemain paling senior yang bersama Coyle mendampingi Muamba dalam perjalanan ke rumah sakit, mengatakan, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa sangat kecil sebagai manusia. ”Saya benar-benar merasa tak berdaya. Dia (Muamba) adalah rekan seperjuangan sekaligus seorang ayah. Anda berdiri di sebelahnya dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Davies.

Sehari setelah laga yang tak kelar di kandang Spurs, para pemain ”The Trotters” kembali ke Bolton, sekitar 320 kilometer dari London. Menurut Davies, para pemain tetap mendapat panggilan berlatih pada hari Minggu, tetapi tak wajib. Jika mereka ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, tidak perlu datang ke tempat latihan. Tragedi Muamba rupanya menyadarkan, keluarga adalah segalanya dan kebahagian itu bisa direnggut kapan saja di lapangan hijau.

Dari Coyle, Davies mendapat tugas untuk menyambangi satu per satu pemain Bolton untuk memastikan mereka oke-oke saja. ”Sebagai keluarga besar, kami ingin memastikan semua anggota dalam keadaan baik dan terus bergandengan tangan dalam keadaan seperti ini,” ujar Davies.

Sesungguhnya Bolton tak sendirian. Saat Muamba terkapar, pemain Spurs larut dalam kesedihan. Rafael van der Vaart terpekur di pinggir lapangan dengan mata nanar. Bek kanan Benoit Assou-Ekotto berjalan mondar-mandir sambil komat-kamit berdoa. ”Saya ketakutan, benar-benar ketakutan saat melihat Muamba terkapar. Saya khawatir sesuatu menimpa dirinya, menimpa keluarganya, dan semua yang mencintainya,” papar Assou-Ekotto yang kompatriotnya, Marc-Vivien Foe, meninggal dalam tugas di lapangan hijau saat membela Kamerun di Piala Konfederasi 2003.

Sejak 1889, ketika sepak bola dimainkan secara kompetitif di Eropa, tercatat 85 pemain meninggal dunia mendadak di lapangan hijau dan kebanyakan akibat serangan jantung. Dari angka di atas, 36 kasus terjadi pada periode 2000 hingga 2012. Ironisnya, pemain bola terakhir yang meninggal dunia di lapangan hijau akibat serangan jantung adalah D Venkatesh, gelandang klub Bangalore Mars, saat berlaga di kompetisi divisi dua India. Meninggalnya Venkatesh hanya sehari setelah Muamba terkapar di White Hart Lane.

Tidak seperti Muamba yang langsung mendapat respons dunia, kisah Venkatesh nyaris tak diketahui. Bahkan, nama depannya pun tak tersebut dalam beberapa berita pendek di dunia maya dan hanya tertulis ”D”, titik.

Seperti halnya Venkatesh, di dunia sepak bola, Muamba bukan siapa-siapa. Namun, tragedi yang menimpa dirinya merekatkan kembali ikatan persaudaraan sepak bola yang belakangan mengendur, bahkan cenderung kehilangan nilai kekeluargaan, semangat, dan empati. Saat mendapat pertolongan pertama di White Hart Lane, hampir semua penonton larut dalam kesedihan. Malam itu, pendukung Spurs dan Bolton yang selama 41 menit laga dipisahkan oleh kata ”kawan” dan ”lawan” sontak bersatu memberikan empati kepada Muamba yang sedang mati suri.

Di White Hart Lane tak ada sinyal protes ketika wasit Howard Webb memutuskan menghentikan laga. Yang terdengar justru yel-yel ”Fabrice Muamba... Fabrice Muamba...” yang diserukan bersama oleh pendukung Bolton dan Spurs. Semua penonton di stadion pun memberikan penghormatan berdiri saat Muamba ditandu menuju ambulans yang melarikannya ke rumah sakit.

Setelah Muamba jatuh, dunia sepak bola berdoa untuk Muamba. Ratusan kilometer dari London tempat Muamba dirawat, tim Real Madrid tampil dengan kostum bertuliskan ”Get Well Soon Muamba”. Bukan hanya itu, sebagian pemain juga berkostum dengan tulisan ”Animo Abidal” untuk memberikan dukungan moral kepada Eric Abidal, pemain Barcelona yang membutuhkan transplantasi hati untuk menyambung hidup.

Persaudaraan sepak bola mendobrak batas dan sekat, dari Premiership ke La Liga. Kita juga tahu, antara Real Madrid dan Barcelona tercipta jarak dan rivalitas abadi, salah satu yang paling pahit dalam sejarah sepak bola. Namun, nilai-nilai kemanusiaan jauh lebih mulia ketimbang persaingan hampir 100 tahun itu.

Jalan Terjal Milan Menuju Puncak Eropa


AFPAC Milan merayakan scudetto ke-18 mereka setelah bermain imbang tanpa gol dengan AS Roma, di Olimpico, Sabtu (7/5/2011).

MILAN, KOMPAS.com - Dalam lima tahun terakhir, tim sebesar AC Milan tak mencium manisnya trofi Liga Champions. Pascapembalasan dendam pada Liverpool di final Liga Champions musim 2006/2007, keperkasaan "Rossoneri" di benua biru seperti pudar.

Dengan membawa titel juara bertahan di musim 2007/2008, Milan terpaksa tersingkir di babak 16 besar Liga Champions setelah dikalahkan oleh salah satu raksasa Inggris, Arsenal. Bahkan di musim 2008/2009, Milan harus absen di kejuaraan yang telah mereka kuasai selama tujuh kali tersebut.

Di dua musim berikutnya, langkah Milan harus terus terhenti di babak 16 besar atas tim-tim Inggris. Di musim 2009/2010, Manchester United berhasil melempar Milan dari babak 16 besar Liga Champions.

Setelah itu, pada musim berikutnya, kembali tim negeri Ratu Elizabeth menyingkirkan Milan di babak 16 besar Liga Champions. Kali ini, giliran Tottenham Hotspur yang membuat malu pemilik Milan, Silvio Berlusconi.

Di musim ini, setelah Milan mengembalikan kejayaannya di Italia, Berlusconi tentu ingin klubnya tersebut kembali berjaya di benua Eropa. Tetapi jalan Milan menuju mimpi tersebut musim ini tergolong sulit dan terjal. Hanya berada di pot dua dalam undian fase grup Liga Champions di Monaco pada 25 Agustus 2011, hampir pasti juara Italia ini akan bertemu dengan tim-tim besar.

Hal itu memang terbukti. Milan harus berjodoh dengan salah satu raksasa sepak bola dunia, Barcelona, di grup H. Walau sempat menahan imbang 2-2 pada pertemuan pertama di San Siro, September lalu, Milan harus takluk 2-3 dalam kunjunganya ke Camp Nou pada bulan November lalu. Dengan hasil tersebut, "Il Diavolo Rosso" harus puas menjadi runner-up di bawah Lionel Messi dan kawan-kawan.

Jadi runner-up di grup H, kemungkinan Milan kembali bertemu dengan tim besar sangat terbuka. Milan harus kembali bertemu dengan "Meriam London" di fase pertama knock out. Punya catatan buruk dalam pertemuan dengan tim asal Inggris di babak 16 besar, ternyata Milan berhasil menyingkirkan tim asuhan Arsene Wenger tersebut dengan agregat 4-3.

Sukses itu membuat tim satu kota Inter Milan tersebut melaju ke babak delapan besar Liga Champions untuk pertama kalinya semenjak menjadi juara di musim 2006/2007.

Tetapi tampaknya sial bagi Milan karena tim kota mode tersebut kembali menuai jalan terjal di Liga Champions musim ini. Barcelona lagi-lagi menjadi lawan Milan di babak perempat final. Hasil ini menjadi ujian berat bagi tim Milan. Tentunya dalam leg pertama Rabu (29/3/2012) atau Kamis dini hari WIB besok, tim sekelas Milan tak akan pernah menyerah untuk kembali jadi penguasa benua Eropa.