Valverde Latih Kelelawar Mestalla


Dok. rtbf.bePelatih Valencia, Ernesto Valverde.

VALENCIA, KOMPAS.com — Valencia resmi menunjuk Ernesto Valverde sebagai pelatih baru pada Senin (3/12/2012). Valverde akan menggantikan tempat Mauricio Pellegrino yang dipecat pada Sabtu (1/12/2012) lalu.

"Valencia mencapai kesepakatan dengan Ernesto Valverde untuk menangani klub sampai 30 Juni 2013. Perkenalan resmi akan dilakukan pada Senin, 3 Desember 2012, pada pukul 20.45 di ruang pers Sala Antonio Puchades," jelas kubu Valencia.

Karier kepelatihan Valverde dimulai menangani Athletic Bilbao pada 2003-04. Valverde lalu melatih Espanyol pada 2006-08. Selanjutnya, pada 2008-09 Valverde melatih Olympiakos, dan setahun kemudian menangani Villarreal. Lalu, Olympiakos kembali menjadi pelabuhan Valverde pada 2010-12.

Kini, Valverde dituntut untuk meningkatkan performa Valencia di kompetisi Liga BBVA. Untuk sementara, Valencia menempati urutan ke-11 dengan 18 poin.

 

La Masia, dari "Belanda" untuk Barca dan Spanyol


Dok. FC BarcelonaLa Masia, sebuah tempat dekat Stadion Camp Nou, yang menjadi sekolah calon-calon pesepak bola di Barcelona.

BARCELONA, KOMPAS.com — Sudah bukan rahasia umum jika ciri khas Barcelona terletak pada cara bermain yang disajikan di lapangan hijau. Olah bola, umpan satu-dua, hingga pergerakan pemain Azulgrana akan membuat penonton menggeleng-gelengkan kepala, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat.

Jika ingin mengetahui rahasia dasar permainan seperti itu, maka jawabannya adalah bangunan klasik abad ke-18 yang berada tidak jauh dari Stadion Camp Nou. Di sana akan ditemukan sebuah tempat bernama La Masia. Cikal bakal seorang genius sepak bola macam Xavi Hernandez, Lionel Messi, Andres Iniesta, ataupun Cesc Fabregas bermula dari akademi tersebut.

Uniknya, awal terbentuknya akademi ini bukan atas ide orang Spanyol, negara klub Barcelona dilahirkan, melainkan dari seorang pemain asal Belanda yang pernah bermain dan melatih Azulgrana, Johan Cruyff.

“Pada 15 atau 17 tahun lalu, klub ini kedatangan Johan Cruyff. Pada awal kedatangannya, Cruyff langsung berujar: Ok, anak-anak, mulai dari sekarang kita akan bermain dengan cara sendiri. Selalu ada visi dalam teknik, mengumpan, dan kecepatan berpikir,” ingat eks Pelatih Barcelona, Josep Guardiola, beberapa tahun lalu.

Benar saja apa yang dikatakan sang maestro Belanda tersebut. Kini, hampir dua dekade berselang, cara bermain yang diinginkan Cruyff dapat dinikmati penonton sepak bola di seluruh dunia.

La Masia ditutup
Sebanyak 70 staf termasuk pelatih, dokter, ahli gizi, koki, sampai psikolog menjaga sekitar 75 anak-anak di La Masia yang berusia antara 6 hingga 18 tahun. Barcelona sangat memperhatikan benar keberadaan calon-calon bintang sepak bola tersebut, mulai dari gizi sampai pendidikan formal. Semua dilakukan di La Masia.

Klub Catalan itu ingin menghasilkan pemain yang luar biasa, pemain yang fasih memainkan pola tiki-taka, yaitu umpan pendek yang tajam serta pergerakan cepat. “Pemain yang telah dididik La Masia memiliki sesuatu perbedaan. Filosofi bermain mereka berbeda dengan pemain lainnya,” ucap Guardiola.

Sampai saat ini, telah terdapat sekitar 500 pemain eks akademi La Masia. Tetapi, tidak semua lulusan akademi La Masia sukses sebagai pemain tersohor di dunia. Menurut perhitungan Barcelona, para lulusan akademi La Masia yang sukses hanya berjumlah 10 persen.

Pada Juni 2011, sejarah tempat berdirinya akademi Barcelona berakhir. Ya, La Masia resmi ditutup dan berpindah tempat ke kompleks latihan yang lebih modern, Ciutat Esportivo Joan Gamper. Meski demikian, La Masia bakal tetap dikenang sebagai rumah pemain-pemain terbaik dunia untuk menimba ilmu sepak bola.

"Kiblat" klub-klub Eropa
Meski yang sukses hanya sepersepuluh dari semua lulusan akademi La Masia, tak lantas pengembangan pemain muda ini dianggap gagal. Terbukti, bersama Ajax Amsterdam, Barcelona dianggap sebagai penghasil pemain-pemain berkualitas.

Klub-klub di Eropa macam Arsenal, Chelsea, Manchester United, VfB Stuttgart, maupun Girondins Bordeaux pernah mengirimkan perwakilannya untuk melihat langsung cara kerja akademi La Masia. Hal tersebut ternyata tidak mengagetkan Pep Segura, mantan Direktur Teknik La Masia yang juga pernah menjabat Manajer Pengembangan Akademi di Liverpool.

“Sangat berbeda. Di Inggris tidak ada struktur yang kompetitif seperti halnya di La Masia. Saya tidak membicarakan tentang rendahnya kualitas para pemain muda di sini. Sebab, struktur kompetisi yang bagus akan membantu klub membangun para pemain berkualitas,” jelas Segura.

Diadopsi La Furia Roja
Kemajuan tim nasional Spanyol saat ini juga dianggap beberapa orang merupakan hasil sumbangan akademi La Masia. Bahkan, hal tersebut diakui legenda Madrid, Fernando Hierro. “La Masia sangat penting bagi Spanyol. Ada banyak pemain Barcelona yang sekarang menjadi pilar Spanyol. Kini, Spanyol bermain dengan filosofi bermain yang sama dengan Barcelona,” ujar Hierro.

Pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque, juga mengakuinya. “Saya pikir, La Masia telah memberikan kontribusi yang baik untuk Spanyol. Para pemain akademi telah berkembang lewat kerja keras yang dilakukan. Itu semua hasil dari bertahun-tahun investasi yang dilakukan sepak bola Spanyol,” tandas Del Bosque.

Dengan pentingnya peran akademi La Masia bagi Barcelona hingga La Furia Roja, terdapat satu pertanyaan yang mungkin diharapkan pencinta sepak bola di Indonesia. Kapankah Indonesia memiliki akademi sepak bola seperti La Masia di Barcelona?

City Capai Kesepakatan Awal dengan Pep


AFPMantan pelatih Barcelona, Josep Guardiola.

MANCHESTER, KOMPAS.com - Mantan Pelatih Barcelona, Josep Guardiola, bakal menggantikan Roberto Mancini setelah ia telah mencapai kesepakatan awal dengan Manchester City. Hal tersebut diungkapkan salah satu agen FIFA, Francios Gallardo.

"Guardiola sudah melakukan kesepakatan awal untuk menjadi manajer Manchester City berikutnya. Tidak masalah kalau Milan atau klub lain mengajukan tawaran untuk dia," ujar Gallardo seperti yang dikutip The Mirror.

Spekulasi yang berkembang menyebutkan, keberhasilan City menggaet Guardiola tidak lepas dari campur tangan Txiki Begiristain dan Ferran Soiano sebagai direktur anyar City. Kedua sosok tersebut sebelumnya pernah menjabat posisi penting di Barcelona.

Gallardo juga mengaku yakin, Guardiola lebih berkembang bersama "Manchester Biru" daripada memilih membesut Chelsea, Arsenal, atau Manchester United. Pasalnya, City akan memberi kebebasan bagi Guardiola untuk membentuk timnya.

Tidak hanya klub Inggris saja yang menginginkan Guardiola. AC Milan pun beberapa kali dikaitkan-kaitkan dengan rencana memboyong Pep. (MIR)

 

Hujan Gol Warnai Kemenangan MU di Madejski


GLYN KIRK / AFPStriker Manchester United, Wayne Rooney (merah), saat mengeksekusi penalti pada laga melawan Reading di Madejski Stadium, Sabtu atau Minggu (2/12/2012) dini hari WIB. MU menang tipis 4-3 atas Reading.

READING, KOMPAS.com - Hujan gol terjadi di Stadion Madejski, Sabtu atau Minggu (2/12/2012) dini hari WIB. Manchester United menang tipis atas tuan rumah, Reading, dalam laga berhias tujuh gol.

Pertandingan baru berlangsung tujuh menit, gawang MU yang dikawal Anders Lindegaard sudah bobol melalui aksi Hal Robson-Kanu. Kesalahan Rio Ferdinand membuang bola umpan Jabi McAnuff, berhasil dimanfaatkan Robson-Kanu untuk mengoyak jala MU leway sepakan setengah voli.

Keunggulan tuan rumah tak bertahan lama. Lima menit kemudian, MU berhasil menyamakan kedudukan melalui Anderson. Bekerja sama dengan Ashley Young, Anderson mengirimkan tendangan kaki kiri keras ke tiang dekat gawang Adam Federici. Skor imbang 1-1.

Pada menit ke-16, MU gantian memimpin. Kali ini, tendangan penalti Wayne Rooney mengecoh Federici untuk membawa MU unggul 2-1. Penalti diberikan wasit Mark Halsey setelah Jay Tabb mendorong Jonny Evans di dalam kotak penalti.

Akan tetapi, Reading cepat membalas. Semenit berselang, tandukan Adam Le Fondre sukses meluncur ke gawang MU. Gol penyeimbang tersebut buah sepak pojok Nicky Shorey.

Lima menit setelahnya, The Royals lagi-lagi berbalik unggul. Seperti gol kedua yang berawal dari sepak pojok, kali ini umpan Shorey mampu dimaksimalkan Sean Morrison menjadi gol ketiga Reading.

MU yang tertinggal memperlihatkan mentalnya. Memasuki menit ke-30, Setan Merah mampu membuat skor menjadi 3-3 berkat gol kedua Rooney. Kerja sama apik Young dan Evra, diteruskan sepakan keras Rooney dari depan mulut gawang Reading.

Hujan gol di Madejski Stadium belum berhenti. Pada menit ke-34, MU membuat gol keempat sekaligus gantian menggunguli tuan rumah. Umpan tumit Rooney membuat Robin van Persie tinggal berhadapan dengan Federici. Tanpa kesulitan, Van Persie menaklukkan Federici dengan tembakan kaki kanan.

Memasuki menit ke-38, MU mendapat peluang menambah keunggulan. Memanfaatkan bola muntah hasil sundulan Chris Smalling, Van Persie melepaskan tembakan keras dari jarak dekat. Namun, Adrian Mariappa berhasil menghalau bola. Van Persie mengklaim usahanya itu berbuah gol. Namun, wasit dan asisten wasit menyatakan sebaliknya. Babak pertama berakhir 4-3 untuk keunggulan MU.

Banyaknya gol pada babak pertama, gagal tertular setelah turun minum. Baik Reading dan MU masih bergantian melancarkan serangan. Namun, beberapa peluang kedua tim mentah karena buruknya penyelesaian akhir, maupun penampilan gemilang kiper kedua tim.

Peluang terbesar dihadirkan Van Persie pada menit ke-65. Kiper Federici, menerima umpan dari pemain belakang Reading. Bermaksud mengecoh, bola justru malah direbut Van Persie. Beruntung, Van Persie ternyata gagal memanfaatkan kesalahan sang kiper, karena tembakannya malah melenceng ke samping gawang.

Reading dan MU gagal membuat gol pada babak kedua. Skor akhir 4-3 masih tetap bertahan untuk kemenangan MU. Hasil ini membawa Red Devils kembali menduduki puncak klasemen Premier League, setelah sebelum sempat ditempati Manchester City selama dua jam. MU kini mengumpulkan 36 poin dan berjarak tiga angka dari City. Reading sendiri masih tersungkur di posisi ke-19 dengan sembilan poin.

Susunan pemain
Reading:
1-Adam Federici; 24-Shaun Cummings, 15-Sean Morrison, 6-Adrian Mariappa, 3-Nicky Shorey; 19-Hal Robson-Kanu (10-Noel Hunt 83), 8-Mikele Leigertwood, 16-Jay Tabb (12-Gareth McCleary 79), 11-Jabi McAnuff; 9-Adam Le Fondre, 33-Jason Roberts (7-Pavel Pogrebnyak 69)

Man. United: 13-Anders Lindegaard; 2-Rafael da Silva (12-Chris Smalling 31), 5-Rio Ferdinand, 6-Jonny Evans, 3-Patrice Evra; 24-Darren Fletcher, 16-Michael Carrick, 8-Anderson (4-Phil Jones 46); 18-Ashley Young, 10-Wayne Rooney, 20-Robin van Persie (19-Danny Welbeck 74)

Wasit: Mark Halsey

 

Michu Perpanjang Rekor Buruk Arsenal


AFPPenyerang Swansea City, Michu, pada laga Premier League melawan Arsenal, di Emirates, Sabtu (1/12/2012).

LONDON, KOMPAS.com - Penyerang Swansea City mencetak dua gol yang menentukan kemenangan timnya 2-0 atas Arsenal, pada laga Premier League, di Emirates, Sabtu (1/12/2012). Ini adalah kegagalan menang ketiga bagi Arsenal dalam tiga laga terakhir.

Dengan hasil tersebut, Arsenal merosot ke peringkat ke-10 dengan nilai 21, atau kalah lima angka dari Tottenham Hotspur di tempat keempat. Adapun Swansea naik ke posisi ketujuh dengan nilai 23.

Gol pertama Michu terjadi pada menit ke-88. Dengan kaki kiri, ia melesatkan bola kiriman Luke More dari tengah kotak penalti ke sudut kanan atas gawang tuan rumah.

Pada menit ke-90+1, Michu kembali masuk daftar pencetak gol. Setelah menguasai bola hasil tekel Nathan Dyer terhadap Carl Jenkinson, Michu menggiring bola masuk kotak penalti dan dengan kaki kiri melesakkan bola ke sudut kanan bawah gawang Wojciech Szczesny.

Pada menit-menit awal, Arsenal kesulitan mengembangkan permainan dan beberapa kali mendapat ancaman serius. Namun, barisan belakang Arsenal membuat peluang tim tamu tak membuahkan gol.

Pada menit ke-14, Angel Rangel dua kali melepaskan tembakan dari jarak dekat, yang semuanya kandas di tangan Szczesny. Tak lama setelahnya, giliran Per Mertesacker membuang bola hasil tendangan Jonathan De Guzman.

Setelahnya, Arsenal bisa meredam tekanan lawan dengan penguasaan bola. Namun, mereka tetap kesulitan menciptakan peluang. Sejumlah tembakan spekulasi juga diantisipasi dengan baik Gerhard Tremmel, misalnya tembakan Santi Cazorla pada menit ke-28.

Selain itu, di tengah dominasi itu, Arsenal beberapa kali kecolongan serangan tim tamu. Pada menit ke-31, misalnya, Swansea melancarkan serangan berujung tembakan dari Nathan Dyer, yang diblok Thomas Vermaelen.

Pada babak kedua, Arsenal mampu membongkar pertahanan lawan dan menciptakan sejumlah peluang, yang kandas di tangan Gerhard Tremmel.

Pada menit ke-48 dan ke-61, misalnya, Tremmel menjinakkan tembakan Gervinho dan Santi Cazorla.

Setelah tembakan Angel Rangel pada menit ke-61 diantisipasi Szczesny, permainan lebih terbuka. Dalam sejumlah kesempatan, kedua kubu bergantian menciptakan peluang gol.

Gervinho melihat tembakannya pada menit ke-71 dihentikan Tremmel di luar garis gawang. Semenit kemudian, giliran tembakan Luke Moore yang dipatahkan Szczesny.

Eksekusi Dwight Tiendalli kandas di tangan Szczesny pada menit ke-83. Tiga menit kemudian, Thomas Vermaelen melihat bola sundulannya jatuh tepat di tangan Tremmel.

Peluang berikutnya adalah tembakan Michu yang berujung gol, pada menit ke-88 dan ke-90+1.

Susunan pemain
Arsenal:
1-Wojciech Szczesny; 4-Per Mertesacker, 5-Thomas Vermaelen, 25-Carl Jenkinson, 28-Kieran Gibbs; 8-Mikel Arteta, 9-Lukas Podolski (12-Olivier Giroud 67), 10-Jack Wilshere (7-Tomas Rosicky 80), 14-Theo Walcott; 19-Santi Cazorla, 27-Gervinho (15-Alex Oxlade-Chamberlain 67)

Swansea: 25-Gerhard Tremmel; 4-Chico, 6-Ashley Williams, 22-Angel Rangel (21-Dwight Tiendalli 76), 33-Ben Davies; 7-Leon Britton, 12-Nathan Dyer, 20-Jonathan De Guzman, 24-Ki Sung-Yueng; 9-Michu, 17-Etey Shechter (19-Luke Moore 67)
 
Wasit: Mark Clattenburg